Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-otomatis-menampilkan-link-sumber.html#ixzz2FgJyX6Es

Selasa, 11 September 2012

NEONATUS

PERKEMBANGAN DAN PERSIAPAN KEHIDUPAN NEONATUS

 DARI INTRA KE EKSTRA UTERIN



A.    PERNAPASAN

        Penyesuaian paling kritis yang harus dialami bayi baru lahir ialah penyesuaian sistem pernapasan. Paru-paru bayi cukup bulan mengandung sekitar 20 ml cairan/kg. Udara harus diganti oleh cairan yang mengisi traktus respiratorius sampai alveoli. Pada kelahiran pervaginam normal, sejumlah kecil cairan keluar dari trakea dan paru-paru bayi.

         Dalam satu jam pertama kehidupan bayi, sistem limfatik paru secara kontinu mengeluarkan cairan dalam jumlah besar. Pengeluaran cairan ini juga diakibatkan perbedaan tekanan dari alveoli sampai jaringan intestinal dan sampai kapiler pembuluh darah.

Pernapasan abnormal dan kegagalan paru untuk mengembang dengan sempurna mengganggu aliran cairan paru janin dari alveoli interstitial sirkulasi pulmoner.
Tarikan napas pertama terjadi disebabkan oleh reflek yang dipicu oleh perubahan tekanan, pendinginan, bunyi, cahaya, dan sensasi lain yang berkaitan dengan proses kelahiran. Apabila perubahan yang terjadi sangat ekstrem, depresi pernapasan dapat terjadi. Pada kebanyakan kasus, timbul reaksi pernapasan yang berlebihan dalam satu menit setelah bayi lahir, sehingga bayi mulai menarik napas yang pertama dan menangis.
Pola pernapasan tertentu menjadi karakteristik bayi baru lahir normal yang cukup bulan. Setelah pernapasan mulai berfungsi, napas bayi menjadi dangkal dan tidak teratur, berfariasi dari 30 sampai 60 kali per menit, disertai apnea singkat (kurang dari 15 detik). Periode apnea singkat ini paling sering terjadi selama siklus tidur aktif (rapid Eye Movement). Durasi dan frekuensi apnea menurun seiring peningkatan usia. Periode apnea lebih dari 15 detik harus dievaluasi.
Bayi baru lahir biasanya bernapas melalui hidung. Respon bayi terhadap obstruksi hidung adalah membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas. Kebanyakan bayi tidak memiliki respon ni sampai berusia tiga minggu. Oleh karena itu, asfiksia dan sianosis dapat terjadi akibat obstruksi hidung.

B.    SIRKULASI

             Sirkulasi darah janin intra uterin berbeda dengan sirkulasi pada bayi atau anak (ekstra uterin). Selama dalam masa intra uterin, paru-paru janin belum berkembang sempurna sehingga O2 diambil melalui perantara plasenta. Kegagalan fungsi plasenta dapat menimbulkan berbagai penyulit dalam pertumbuhan dan perkembangan janin. Saat kelahiran peredaran darah janin akan mengalami perubahan. Dalam hal ini fungsi paru-paru telah sempurna sama seperti peredaran darah pada orang dewasa.

1.     Sirkulasi Darah Intra Uterin
Saat ini plasenta memegang peranan penting dimana jumlah darah yang mengalir melalui tali pusat sekitar 125 ml/kg BB per menit atau sekitar 500 ml per menit.Faktor yang memegang peranan, yaitu :
b.     Foramen ovale anatra kedua atrium
c.      Duktus arteriosus bothali antara arteri pulmonalis menuju aorta
d.     Duktus venosus arantii di dalam hepar menuju vena pulmonalis
e.      Pada umbilikus terdapat satu vena dan dua areri umbilikalis
Sirkulasinya :
          Darah yang kaya O2 dan nutrisi melalui vena umbilikalis menuju hati yang terdapat duktus venosus arantii langsung menuju vena cava inferior masuk ke atrium kanan. Sebagian besar masuk ke atrium kiri, melalui foramen ovale sebagian kecil amsuk ke ventrikel kanan. Dari atrium kiri dipompa ke ventrikel kiri masuk ke aorta dan dialirkan ke seluruh tubuh. Darah dari ventrikel masuk kanan dipompa ke paru-paru. Karena paru-paru belum sempurna berfngsi maka darah di arteri pulmonalis melalui duktus venosus bothali menuju aorta. Darah yang mengalir menuju paru-paru akan dialirkan kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Kemudian darah yang telah terpakai (mengandung CO2) akan kembali ke plasenta melalui aorta, arteri iliaka interna akhirnya masuk ke arteri umbilikalis. Sisa metabolisme dilepaskan ke dalam sirkulasi retroplasenter untuk selanjutnya dibuang melalui alat pembuangan pada ibu.
2.     Sirkulasi Darah Ekstra Uterin
        Setelah bayi lahir dan mulai bernapas sendiri, sirkulasi darah dari plasenta segera  terhenti. Saat ini paru-paru telah dapat berfungsi sempurna, sehingga peredaran darah menjadi seperti peredaran darah dewasa.
            Fungsi pernapasan terjadi beberapa detik setelah lahir. Saat lahir alveoli paru-paru dipenuhi oleh cairan, arteri tertekan karena jepitan tali pusat dan peningkatan CO2 dalam darah janin. Bayi akan menghirup udara dan bernapas. Udara masuk ke alveoli paru dengan tekanan intra thorakal positif hingga 40 cmH2). Darah vena kembali ke atrium kiri sehingga foramen ovale tertutup. Saat tali pusat dipotong, fungsi duktus venosus arantii berhenti. Duktus bothali menutup dalam 12-24 jam.
3.     Faktor yang Mempengaruhi Peredaran Darah Janin dari Intra ke Ekstra Uterin
1.     Berkembangnya Paru-paru Janin
Menyebabkan tekanan negatif dalam paru sehingga dapat menampung darah untuk melakukan pertukaran CO2 dan O2 dari udara. Hal ini mengakibatkan duktus anteriosus bothali tidak berfungsi (mengalami obliterasi). Tekanan atrium kiri semakin meningkat sehingga foramen ovale menutup.
Tekanan di atrium kiri meningkat karena :
a.     Darah dari atrium kanan langsung menuju paru-paru
b.     Darah dari paru-paru, vena pulmonalis masuk ke atrium kiri
2.     Pemotongan Tali Pusat
Terputusnya hubungan peredaran darah antara ibu dan janin terjadi dengan dipotongnya tali pusat. Sebaiknya dilakukan setelah bayi menangis dengan nyaring atau tali pusat berhenti berdenyut karena dapat menambah darah dari plasenta +_ 50 ml – 75 ml yang sangat berarti bagi pertumbuhan bayi.
3.     Adult Haemoglobin (TipeA)
Menjelang persalinan disiapkan pembuatan adult hemoglobin A sehingga setelah lahir langsung dapat menangkap O2 dan melepas CO2 melaalui pernapasan.

C.    TRAKTUS DIGESTIVUS

           Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna, memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat sederhana serta mengemulsi lemak. Bayi baru lahir dengan hidrasi yang adekuat membran mukosa mulutnya lembab dan berwrna merah muda. Umumnya, membran mukosa tidak pucat atau sianosis. Pengeluaran air liur sering selama beberapa jam setelah bayi lahir.

            Saat bayi lahir tidak terdapat bakteri dakam saluran cernanya. Segera setelah lahir orificium oral dan orificium anal memungkinkan bakteri dan udara masuk. Bising usus bayi dapat didengar satu jam setelah lahir. Biasanya konsentrasi tertinggi terdapat di bagian bawah usus halus dan  terutama di usus besar. Flora normal usus membantu sintesa vitamin K, asam folat dan biotin.

             Keasaman lambung bayi saat lahir umumnya sama dengan keasaman lambung orang dewasa, tetapi akan menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama dua sampai tiga bulan. Penurunan keasaman lambung ini dapat menumbulkan “kolik”. Bayi yang mengalami kolik tidak dapat tidur, menangis dan tampak distres di antara waktu makan yang sama setiap hari. Tidak ada yang dapat menenangkannya. Gejala ini akan hilang setelah bayi berusia tiga bulan.

              Pencernaan dan absorbsi nutrien lebih lanjut berlangsung di usus halus. Sekresi pankreas, sekresi dari hati melalui saluran empedu dan sekresi dari duodenim membuat proses yang kompleks ini dapat berlangsung. Saat lahir, usus bayi bagian bawah penuh dengan mekonium. Mekonium yang dibentuk selama janin dalam kandungan berasal dari cairan amnion dan unsur-unsurnya, dari sekrsi usus dan dari sel-sel mukosa. Mekonium berwarna hijau kehitaman, konsistensinya kental dan mengandung darah samar. Mekonium yang pertama keluar steril, tetapi beberapa jam kemudian semua mekonium yang keluar mengandung bakteri. Jumlah faeses pada bayi baru lahir cukup bervariasi selama minggu pertama dan jumlah paling banyak adalah antara hari ketiga dan keenam. Faeses transisi (keci-kecil, berwarna coklat sampai hijau akibat adanya mekonium) dikeluarkan sejak hari ketiga sampai keenam. Tinja bayi yang disusui ibunya dan tinja dari bayi yang diberi susu botol tidak sama. Tinja dari bayi yang disusui lebih lunak, berwarna kuning emas, dan tidak mengiritasi kulit bayi. Tinja dari bayi yang diberi susu botol berbentuk tetapi tetap lunak.


D.    KELENJAR ENDOKRIN

          Pada kehamilan 10 minggu kortikotropin sudah ditemukan dalam hipofisis janin dimana hormon ini berfungsi untuk mempertahankan glandula suprarenalis janin. Hormon somatomamotropin ditemukan di daerah tali pusat dengan kadar tinggi, dibentuk di plasenta di samping oleh hipofisis janin meski dalam jumlah terbatas. Hyroid Stimulating Hormone (Tirotropin) telah ditemukan pada umur kehamilan 10 minggu, tetapi hanya sedikit tirotropin dari ibu yang melindungi plasenta. Kelenjar gondok pada janin sudah berfungsi pada kehamilan 10-14 minggu untuk menyimpan iodium yang menghasilkan tiroksin. Pemberian radioactive iodium atau iodium terlampau banyak akan mempengaruhi janin. Umumnya janin tergantung pada gandula tiroideanya karena pada kretin yang tidak mempunyai kelenjar gondok tidak dapat melewati plasenta dengan baik.

                Glandula tiroidea pada janin jauh lebih besar daripada orang dewasa, karena ditemukan bagian korteks. Segera setelah bayi dilahirkan aldosteron biasanya sudah ditemukan dalam konsentrasi yang meningkat dan mudah melintasi plasenta. Testosteron dan androstenadion dapat ditemukan di testes janin yang imatur.

      Selama masa intra uterin, janin telah mendapatkan pengaruh rangsanganestrogen,   progesteron dan gonadotropin sehingga ketika bayi wanita lahir telah terlihat adanya pembesaran payudara dan uterus. Mukosa vagina dan endometrium memperlihatkan gambaran proliferasi. Epitel vagina mengandung glikogen dalam jumlah besar. Vagina menunjukkan pH 4,5 – 5 mirip pH pada wanita usia reproduksi. Setelah lahir, kadang-kadang terjadi pendarahan dari uterus bayi yang dikenal dengan pendarahan lucut estrogen.


E.    URAT SARAF

         Janin pada umur kehamilan 10 minggu dilahirkan hidup, maka dapatdilihat bahwa janin tersbut dapat mengadakan gerakan-gerakan spontan. Rangsanan lokal dapat membuat janin menganga dalam mengadakan fleksi pada jari-jari tangan serta kaki. Gerakan menelan baru terjadi pada kehamilan 4 bulan, sedangkan menyedot baru terjadi pada kehamlan 6 bulan.

Pada triwulan terakhir hubungan antara urat saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih sempurna, sehingga janin yang dilahirkan sesudah kehamilan 32 minggu dapat hidup di luar kandungan. Pada kehamilan 7 bulan mata janin sangat sensitifuntuk cahaya. Bagian dalam,tengah dan luar telinga dibentuk dalam triwulan kedua. Saat ini dipakai untuk penilaian adanya kelainan organik ada urat adalah ultrasonografi (USG) dan Magnetic Resonance Imaging (MIR). Meskipun pengaruh buruk dari USG dan MRI (geneik dan onkologi) belum diketahui maka pemakaiannya dalam trimester pertama, sewaktu organogenesis sedang berlangsung dengan hebatnya, sebaiknya tidak dilakukan. MRI dipakai dalam obstetri untuk menilai janin dengan resiko tinggi. Dalam trimester terakhir keadaan paru dan otak janin dapat dilihat dengan jelas. Reaksi terhadap rangsangan pada neonatus di ekstrauterin dapat berupa :
1.     Reflek morro            : reflek terkejut oleh karena bunyi keras dan tiba-tiba
2.     Reflek geg                : reflek menelan
3.     Reflek saking            : Reflek menghisap
4.     Reflek roting             : reflk mencari putting susu
5.     Reflek babynski        : reflek pada kaki bayi untuk menjauh karena disentuh
6.     Reflek ekstrusi          : berusaha mengeluarkan benda yang menekan lidah
7.     Reflek tangan            : reflek menggenggam
8.     Reflek leher tonik
9.     Reflek otolith right     : kepala berusaha untuk fleksi
Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat diprediksi selama periode bayi sampai awal masa anak-anak. Pertumbuhan ini  menjadi lebih bertahap selama sisa dekade pertama dan minimal selama masa remaja. Pada akhir tahun pertama, pertumbuhan serebelum, yang dimulai pada umur kehamilan 30 minggu, berakhir. Mungkin inilah penyebab otak rentan terhadap trauma nutrisi dan trauma lain selama masa bayi.

F.     IMUNOLOLOGI

Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin. Namun, sel-sel ini tidak aktif selama beberapa bulan. Selama tiga ulan pertama kehidupan, bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima dari ibu. Barier alami, seperti keasaman lambung atau produksi pepsin dan tripsin, yang tetap mempertahankan kesterulan usus halus, belum berkembang dengan baik sampai tiga atau empat minggu. IgA pelindung membran lenyap dari traktus respiratorius dan traktus urinarius. IgA ini juga tidak ini juga terdapat pada traktus gastrointestinal, kecuali jika bayi dibri ASI. Bayi mulai mensintesis IgG dan mencapai sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada usia satu tahun, sedangkan kadar orang orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan. IgA, IgD dan IgE diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum dicapai sampai masa anak-anak dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI. Tingkat proteksi bervariasi tergantung pada usia dan kematangan bayi serta sistem imunitas yang dimiliki ibu.

1 komentar:

  1. hallo om swastyastu.. kalau sempat visit juga www.feelinbali.blogspot.com nggih,, kalo mau diskusi tentang blog juga bisa, siapa tau saya bisa bantu,, suksma

    BalasHapus

 

WELCOME TO MY BLOG Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates